KANDIDAT NEWS
WELCOME
Senin, 27 Mei 2013
SIAPA YANG PANTAS???
MENGULAS SINGKAT SIAPA MEREKA YANG PANTAS MENJADI PRESIDEN INDONESIA!!!
Profil Singkat "JK" :
Muhammad Jusuf Kalla lahir di Wattampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan,
15 Mei 1942. Ia menyelesaikan pendidikan pada Fakultas Ekonomi, Universitas
Hasanuddin Makassar tahun 1967 dan The European Institute of Business
Administration Fountainebleu, Prancis (1977). Pada Oktober 2004 menjadi Wakil
Presiden Republik Indonesia. Pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla
(SBY-JK) berhasil sebagai pemenang Pemilu. SBY dilantik sebagai Presiden RI
ke-6 dan M. Jusuf Kalla sebagai Wakil Presiden RI ke-10. Pasangan ini menjadi
Presiden dan Wakil Presiden RI yang pertama kali dipilih rakyat secara
langsung. Pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Presiden RI ke-4),
M. Jusuf Kalla dipercayakan selama kurang dari setahun (1999-2000) sebagai
Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI merangkap Kepala Bulog. Pada masa Presiden
Megawati Soekarnoputri (2001-2004) ia dipilih menduduki jabatan Menteri
Koordinator Kesejahteraan Rakyat. Jusuf Kalla kemudian mengundurkan diri
sebagai Menko Kesra RI sebelum maju sebagai calon wakil presiden, mendampingi
calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Selain tugas-tugas sebagai Menko Kesra, M. Jusuf Kalla telah meletakkan kerangka perdamaian di daerah konflik Poso, Sulawesi Tengah, dan Ambon, Maluku. Lewat pertemuan Malino I dan Malino II dan berhasil meredakan dan menyelesaian konflik di antara komunitas Kristen dan Muslim. Kunjungan kerjanya sebagai Menko Kesra ke Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) pada awal tahun 2004 memberinya inspirasi untuk menerapkan pengalaman penyelesaian konflik Ambon-Poso di NAD. Upaya penyelesaian Aceh di dalami dan dilanjutkan penanganannya saat setelah dilantik menjadi Wakil Presiden RI. Akhirnya, kesepakatan perdamaian untuk NAD antara Pemerintah dan tokoh-tokoh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) berhasil ditandatangani di Helsinki pada tanggal 15 Agustus 2005.
Pengalaman pada organisasi pemuda/mahasiswa seperti Ketua HMI Cabang
Makassar tahun 1965-1966, Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Hasanuddin (UNHAS)
1965-1966, serta Ketua Presidium Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) tahun
1967-1969 memberi bekal untuk menyelesaikan masalah-masalah yang sulit
tersebut.
Tahun 1965 sesaat setelah pembentukan Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar), M. Jusuf Kalla terpilih menjadi Ketua Pemuda Sekber Golkar Sulawesi Selatan dan Tenggara (1965-1968). Kemudian, terpilih menjadi Anggoa DPRD Provinsi Sulawesi Selatan Periode 1965-1968 mewakili Sekber Golkar. Pada Musyawarah Nasional (Munas) Golkar di Bali, bulan Desember 2004 ia terpilih menjadi Ketua Umum Partai Golkar Periode 2004-2009. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Anggota Dewan Penasihat DPP Golkar, dan menjadi Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Utusan Golkar (1982-1987), serta Anggota MPR-RI Utusan Daerah (1997-1999). Putra pasangan Hadji Kalla dan Hajjah Athirah ini sebelum terjun ke pemerintahan dikenal luas oleh dunia usaha sebagai pengusaha sukses. Usaha-usaha yang dirintis ayahnya, NV. Hadji Kalla, diserahkan kepemimpinannya sesaat setelah ia diwisuda menjadi Sarjana Ekonomi di Universitas Hasanuddin Makassar Akhir Tahun 1967.
Tahun 1965 sesaat setelah pembentukan Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar), M. Jusuf Kalla terpilih menjadi Ketua Pemuda Sekber Golkar Sulawesi Selatan dan Tenggara (1965-1968). Kemudian, terpilih menjadi Anggoa DPRD Provinsi Sulawesi Selatan Periode 1965-1968 mewakili Sekber Golkar. Pada Musyawarah Nasional (Munas) Golkar di Bali, bulan Desember 2004 ia terpilih menjadi Ketua Umum Partai Golkar Periode 2004-2009. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Anggota Dewan Penasihat DPP Golkar, dan menjadi Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Utusan Golkar (1982-1987), serta Anggota MPR-RI Utusan Daerah (1997-1999). Putra pasangan Hadji Kalla dan Hajjah Athirah ini sebelum terjun ke pemerintahan dikenal luas oleh dunia usaha sebagai pengusaha sukses. Usaha-usaha yang dirintis ayahnya, NV. Hadji Kalla, diserahkan kepemimpinannya sesaat setelah ia diwisuda menjadi Sarjana Ekonomi di Universitas Hasanuddin Makassar Akhir Tahun 1967.
Di samping menjadi Managing Director NV. Hadji Kalla, juga menjadi Direktur
Utama PT Bumi Karsa dan PT Bukaka Teknik Utama. Usaha yang digelutinya, di
samping usaha lama, ekspor hasil bumi, dikembangkan usaha yang penuh idealisme,
yakni pembangunan infrastruktur seperti pembangunan jalan, jembatan, dan
irigasi guna mendorong produktivitas masyarakat pertanian. Anak perusahaan NV.
Hadji Kalla antara lain; PT Bumi Karsa (bidang konstruksi) dikenal sebagai
kontraktor pembangunan jalan raya trans Sulawesi, irigasi di Sulsel, dan Sultra,
jembatan-jembatan, dan lain-lain. PT Bukaka Teknik Utama didirikan untuk
rekayasa industri dan dikenal sebagai pelopor pabrik Aspal Mixing Plant (AMP)
dan gangway (garbarata) di Bandara, dan sejumlah anak perusahaan di bidang
perumahan (real estate); transportasi, agrobisnis dan agroindustri. Atas
prestasinya di dunia usaha, Jusuf Kalla dipilih oleh dunia usaha menjadi Ketua
Kamar Dagang dan Industri Daerah (Kadinda) Sulawesi Selatan (1985-1997), Ketua
Dewan Pertimbangan KADIN Indonesia (1997-2002), Ketua Umum Ikatan Sarjana
Ekonomi Indonesia (ISEI), Sulawesi Selatan (1985-1995), Wakil Ketua ISEI Pusat
(1987-2000), dan Penasihat ISEI Pusat (2000-sekarang).
Di bidang pendidikan, Jusuf Kalla menjadi Ketua Yayasan Pendidikan Hadji
Kalla yang mewadahi TK, SD, SLTP, SLTA Athirah, Ketua Yayasan Pendidikan
Al-Ghazali, Universitas Islam Makassar. Selain itu, ia menjabat Ketua Dewan
Penyantun (Trustee) pada beberapa universitas, seperti Universitas Hasanuddin
(UNHAS) Makassar; Institut Pertanian Bogor (IPB); Universitas Islam Negeri
(UIN) Makassar; Universitas Negeri Makassar (UNM), Ketua Dewan Pembina Yayasan
Wakaf Paramadina; Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) UNHAS.
Di kalangan ulama dan pemuka masyarakat, nama Jusuf Kalla dikenal sebagai Mustasyar Nahdhatul Ulama Wilayah Sulawesi Selatan, melanjutkan tugas-tugas dan tanggung jawab ayahnya, Hadji Kalla, yang sepanjang hidupnya menjadi bendahara NU Sulsel juga menjadi bendahara Masjid Raya, Masjid Besar yang bersejarah di Makassar. Ketika akan membangun masjid bersama Alm. Jenderal M. Jusuf, Jusuf Kalla dipilih menjadi Ketua Yayasan Badan Wakaf Masjid Al-Markaz al-Islami (Masjid Jend. M. Jusuf). Sekarang, Masjid tersebut menjadi Masjid termegah di Indonesia Timur. Di kalangan agama-agama lain selain Islam, Jusuf Kalla dipilih menjadi Ketua Forum Antar-Agama Sulsel.
Di kalangan ulama dan pemuka masyarakat, nama Jusuf Kalla dikenal sebagai Mustasyar Nahdhatul Ulama Wilayah Sulawesi Selatan, melanjutkan tugas-tugas dan tanggung jawab ayahnya, Hadji Kalla, yang sepanjang hidupnya menjadi bendahara NU Sulsel juga menjadi bendahara Masjid Raya, Masjid Besar yang bersejarah di Makassar. Ketika akan membangun masjid bersama Alm. Jenderal M. Jusuf, Jusuf Kalla dipilih menjadi Ketua Yayasan Badan Wakaf Masjid Al-Markaz al-Islami (Masjid Jend. M. Jusuf). Sekarang, Masjid tersebut menjadi Masjid termegah di Indonesia Timur. Di kalangan agama-agama lain selain Islam, Jusuf Kalla dipilih menjadi Ketua Forum Antar-Agama Sulsel.
Penggemar olah raga golf ini, selama sepuluh
tahun (1980-1990) menjadi Ketua Persatuan Sepak Bola Makassar (PSM) dan Pemilik
Club Sepak Bola Makassar Utama (MU) tahun 1985-1992. H. M. Jusuf Kalla yang menikah dengan Nyonya Hajjah Mufidah Jusuf telah
dikaruniai satu putra dan empat putri serta dikaruniai sembilan cucu.
Selain tugas rutin, Wakil Presiden Republik
Indonesia juga melaksanakan program-program strategis pemerintah Indonesia,
meliputi: revitalisasi pertanian dan kehutanan, pertanian; peningkatan kinerja
industri dalam negeri dengan membangun industri listrik, dan industri
pertahanan, energi dan sumber daya mineral; pekerjaan umum dengan percepatan
pembangunan jalan tol Trans-Jawa, jalan di luar Jawa serta proyek pengairan
skala menengah.
Program strategis Wakil Presiden Republik Indonesia juga mencakup: percepatan pembangunan bandara udara, pelabuhan dan kereta api; perdagangan dengan peningkatan ekspor; kelautan untuk peningkatan produksi perikanan; tenagakerja dengan penyelesaian masalah perburuhan; perumahan dengan membangun rumah susun; pariwisata dengan peningkatan; bidang BUMN dengan peningkatan kinerja BUMN; bidang Usaha Kecil Menengah dengan menghidupkan kembali sistem jaminan untuk kredit kecil; dan bidang penanaman modal dengan menyusun program perbaikan Doing Business.
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Program strategis Wakil Presiden Republik Indonesia juga mencakup: percepatan pembangunan bandara udara, pelabuhan dan kereta api; perdagangan dengan peningkatan ekspor; kelautan untuk peningkatan produksi perikanan; tenagakerja dengan penyelesaian masalah perburuhan; perumahan dengan membangun rumah susun; pariwisata dengan peningkatan; bidang BUMN dengan peningkatan kinerja BUMN; bidang Usaha Kecil Menengah dengan menghidupkan kembali sistem jaminan untuk kredit kecil; dan bidang penanaman modal dengan menyusun program perbaikan Doing Business.
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla
Tempat/Tgl. Lahir : Watampone, 15 Mei 1942
Alamat Rumah : Jl. Denpasar Raya CIII/9 Kuningan
Jakarta Pusat
Isteri : Ny. Mufidah Jusuf
Tempat/Tgl. Lahir : Sibolga, 12 Februari 1943
Anak-anak :
1. Muchlisa Jusuf
1. Muchlisa Jusuf
2. Muswirah Jusuf
3. Imelda Jusuf
4. Solichin Jusuf
5. Chaerani Jusuf
6. Cucu
: (1). Ahmad Fikri; (2) Mashitah; (3) Jumilah Saffanah; (4) Emir Thaqib; (5) Rania
Hamidah; (6) Aisha Kamilah; (7) Siti Safa; (8) Rasheed; dan (9) Maliq Jibran.
Pendidikan Terakhir :
Pendidikan Terakhir :
Fakultas Ekonomi, Universitas Hasanuddin
Makassar, 1967
PENGALAMAN
PEMERINTAHAN
* 1999 – 2000 : Menteri Perindustrian dan
Perdagangan Republik Indonesia
* 2001 – 2004 : Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rayat Republik Indonesia
* 2004 – Sekarang : Wakil Presiden RI
* 2001 – 2004 : Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rayat Republik Indonesia
* 2004 – Sekarang : Wakil Presiden RI
PARTAI
GOLKAR
* N P A G : 20000000066
* 1965 – 1968 : Ketua Pemuda Golkar Sulsel
* 1978 – 1999 : Anggota Dewan Penasehat DPD
Golkar Sulawesi Selatan
* 1999 – 2005 : Anggota Dewan Penasehat DPP
Gololongan Karya (Golkar)
* 2005 – sekarang : Ketua Umum DPP Golkar
LEMBAGA
LEGISLATIF
* 1965 – 1968 : Anggota DPRD Sulsel, mewakili
Pemuda Sekber Golkar
* 1982 – 1987 : Anggota MPR – RI Utusan Golkar
BIDANG
AGAMA
* Ketua Yasan Badan Wakaf Masjid Al-Markaz
Al-Islami Makassar
* Bendahara Masjid Raya Makasar
* Mustasyar NU Sulsel
* Ketua Forum Antar-Agama Sulsel
BIDANG
OLAHRAGA
* 1980-1990 : Ketua PSM Makassar
* 1985-1992 : Ketua Klub Sepak Bola Makassar Utama
* 1980-1990 : Bendahara PERBAKIN Sulawesi Selatan
BIDANG
ORGANISASI MAHASISWA
* 1964-1966 : Ketua Senat Mahasiswa Fakultas
Ekonomi UNHAS Makassar
* 1965-1966 : Ketua Umum HMI Cabang Makassar
* 1966-1968 : Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa
Indonesia (KAMI) Sulawesi Selatan
BIDANG
ORGANISASI PROFESI
* 1985-1997 : Ketua Umum Kamar Dagang dan
Industri (KADIN) Sulawesi Selatan
* 1997-2002 : Ketua Dewan Pertimbangan KADIN Indonesia
* 1985-1995 : Ketua Umum Ikatan Sarjana Ekonomi
Indonesia (ISEI) Sulawesi Selatan
* 1987-2000 : Wakil Ketua ISEI Pusat
* 2000-Sekarang : Penasehat ISEI Pusat
* 1990-Sekarang : Ketua Umum Ikatan Alumni
Universitas Hasanudin, Makassar.
* 1987-1992 : Anggota MPR RI (Anggota Badan
Pekerja) - Utusan Golkar
* 1992-1997 : Anggota MPR RI (Anggota Badan
Pekerja) - Utusan Daerah
* 1997-1999 : Anggota MPR RI (Anggota Badan
Pekerja) - Utusan Daerah
BIDANG DUNIA USAHA
* 1969-2001 : Direktur Utama NV. Hadji Kalla
* 1969-2001 : Direktur Utama PT. Bumi Karsa
* 1988-2001 : Komisaris Utama PT. Bukaka Teknik
Utama
* 1988-2001 : Direktur Utama PT. Bumi Sarana Utama
* 1988-2001 : Direktur Utama PT. Kalla Inti Karsa
* 1995-2001 : Komisaris Utama PT Bukaka Siagtel
International
BIDANG SOSIAL/PENDIDIKAN
* 1982-Sekarang : Ketua Umum Yayasan Pendidikan
Hadji Kalla
* 1990-Sekarang : Ketua Umum Yayasan pendidikan
Al-Gozali Universitas Islam Makassar
* 1975-1995 : Ketua Yayasan Badan Wakaf Universitas Muslim Indonesia, Makassar
* 1975-1995 : Ketua Yayasan Badan Wakaf Universitas Muslim Indonesia, Makassar
* 1975-Sekarang : Ketua Perguruan islam
Dutumuseng, Makassar
* 1980-Sekarang :
* Anggota Dewan Penyantun Universitas Hasanudin,
* Anggota Dewan Penyantun IAIN Makassa,
* Anggota Dewan Penyantun UNM/IKIP Makassar.
* 2002-Sekarang : Anggota Wali Amanat IPB-Bogor.
* 2006-Sekarang : Ketua Dewan Pembina Yayasan
Wakaf Paramadina.
Referensi :
- http://community.um.ac.id/showthread.php?82969-Biografi-Jusuf-Kalla
- http://community.um.ac.id/showthread.php?82969-Biografi-Jusuf-Kalla
SIAPA YANG PANTAS???
MENGULAS SINGKAT SIAPA MEREKA YANG PANTAS MENJADI PRESIDEN INDONESIA!!!
PROFIL SINGKAT MEGAWATI :
Bernama Lengkap Diah Permata Megawati
Setiawati Soekarnoputri atau akrab di sapa Megawati Soekarnoputri lahir di
Yogyakarta, 23 Januari 1947. Sebelum diangkat sebagai presiden, beliau adalah
Wakil Presiden RI yang ke-8 dibawah pemerintahan Abdurrahman Wahid. Megawati
adalah putri sulung dari Presiden RI pertama yang juga proklamator, Soekarno
dan Fatmawati. Megawati, pada awalnya menikah dengan pilot Letnan Satu
Penerbang TNI AU, Surendro dan dikaruniai dua anak lelaki bernama Mohammad
Prananda dan Mohammad Rizki Pratama.
Pada suatu tugas militer, tahun 1970, di kawasan Indonesia Timur, pilot Surendro bersama pesawat militernya hilang dalam tugas. Derita tiada tara, sementara anaknya masih kecil dan bayi. Namun, derita itu tidak berkepanjangan, tiga tahun kemudian Mega menikah dengan pria bernama Taufik Kiemas, asal Ogan Komiring Ulu, Palembang. Kehidupan keluarganya bertambah bahagia, dengan dikaruniai seorang putri Puan Maharani. Kehidupan masa kecil Megawati dilewatkan di Istana Negara. Sejak masa kanak-kanak, Megawati sudah lincah dan suka main bola bersama saudaranya Guntur. Sebagai anak gadis, Megawati mempunyai hobi menari dan sering ditunjukkan di hadapan tamu-tamu negara yang berkunjung ke Istana.
Wanita bernama lengkap Dyah Permata
Megawati Soekarnoputri ini memulai pendidikannya, dari SD hingga SMA di
Perguruan Cikini, Jakarta. Sementara, ia pernah belajar di dua Universitas,
yaitu Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Bandung (1965-1967) dan
Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (1970-1972). Kendati lahir dari
keluarga politisi jempolan, Mbak Mega -- panggilan akrab para pendukungnya --
tidak terbilang piawai dalam dunia politik. Bahkan, Megawati sempat dipandang
sebelah mata oleh teman dan lawan politiknya. Beliau bahkan dianggap sebagai
pendatang baru dalam kancah politik, yakni baru pada tahun 1987. Saat itu
Partai Demokrasi Indonesia (PDI) menempatkannya sebagai salah seorang calon
legislatif dari daerah pemilihan Jawa Tengah, untuk mendongkrak suara.
Masuknya Megawati ke kancah politik,
berarti beliau telah mengingkari kesepakatan keluarganya untuk tidak terjun ke
dunia politik. Trauma politik keluarga itu ditabraknya. Megawati tampil menjadi
primadona dalam kampanye PDI, walau tergolong tidak banyak bicara. Ternyata
memang berhasil. Suara untuk PDI naik. Dan beliau pun terpilih menjadi anggota
DPR/MPR. Pada tahun itu pula Megawati terpilih sebagai Ketua DPC PDI Jakarta
Pusat.
Tetapi, kehadiran Mega di gedung DPR/MPR sepertinya tidak terasa. Tampaknya, Megawati tahu bahwa beliau masih di bawah tekanan. Selain memang sifatnya pendiam, belaiu pun memilih untuk tidak menonjol mengingat kondisi politik saat itu. Maka belaiu memilih lebih banyak melakukan lobi-lobi politik di luar gedung wakil rakyat tersebut. Lobi politiknya, yang silent operation, itu secara langsung atau tidak langsung, telah memunculkan terbitnya bintang Mega dalam dunia politik. Pada tahun 1993 dia terpilih menjadi Ketua Umum DPP PDI. Hal ini sangat mengagetkan pemerintah pada saat itu.
Proses naiknya Mega ini merupakan cerita
menarik pula. Ketika itu, Konggres PDI di Medan berakhir tanpa menghasilkan
keputusan apa-apa. Pemerintah mendukung Budi Hardjono menggantikan Soerjadi.
Lantas, dilanjutkan dengan menyelenggarakan Kongres Luar Biasa di Surabaya.
Pada kongres ini, nama Mega muncul dan secara telak mengungguli Budi Hardjono,
kandidat yang didukung oleh pemerintah itu. Mega terpilih sebagai Ketua Umum
PDI. Kemudian status Mega sebagai Ketua Umum PDI dikuatkan lagi oleh Musyawarah
Nasional PDI di Jakarta.
Namun pemerintah menolak dan menganggapnya
tidak sah. Karena itu, dalam perjalanan berikutnya, pemerintah mendukung
kekuatan mendongkel Mega sebagai Ketua Umum PDI. Fatimah Ahmad cs,
atas dukungan pemerintah, menyelenggarakan
Kongres PDI di Medan pada tahun 1996, untuk menaikkan kembali Soerjadi. Tetapi
Mega tidak mudah ditaklukkan. Karena Mega dengan tegas menyatakan tidak
mengakui Kongres Medan. Mega teguh menyatakan dirinya sebagai Ketua Umum PDI
yang sah. Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, sebagai simbol keberadaan DPP
yang sah, dikuasai oleh pihak Mega. Para pendukung Mega tidak mau surut satu
langkah pun. Mereka tetap berusaha mempertahankan kantor itu.
Soerjadi yang didukung pemerintah pun memberi
ancaman akan merebut secara paksa kantor DPP PDI itu. Ancaman itu kemudian
menjadi kenyataan. Pagi, tanggal 27 Juli 1996 kelompok Soerjadi benar-benar
merebut kantor DPP PDI dari pendukung Mega. Namun, hal itu tidak menyurutkan
langkah Mega. Malah, dia makin memantap langkah mengibarkan perlawanan. Tekanan
politik yang amat telanjang terhadap Mega itu, menundang empati dan simpati
dari masyarakat luas.
Mega terus berjuang. PDI pun menjadi dua. Yakni, PDI pimpinan Megawati dan PDI pimpinan Soerjadi. Massa PDI lebih berpihak dan mengakui Mega. Tetapi, pemerintah mengakui Soerjadi sebagai Ketua Umum PDI yang sah. Akibatnya, PDI pimpinan Mega tidak bisa ikut Pemilu 1997. Setelah rezim Orde Baru tumbang, PDI Mega berubah nama menjadi PDI Perjuangan. Partai politik berlambang banteng gemuk dan bermulut putih itu berhasil memenangkan Pemilu 1999 dengan meraih lebih tiga puluh persen suara. Kemenangan PDIP itu menempatkan Mega pada posisi paling patut menjadi presiden dibanding kader partai lainnya. Tetapi ternyata pada SU-MPR 1999, Mega kalah.
Mega terus berjuang. PDI pun menjadi dua. Yakni, PDI pimpinan Megawati dan PDI pimpinan Soerjadi. Massa PDI lebih berpihak dan mengakui Mega. Tetapi, pemerintah mengakui Soerjadi sebagai Ketua Umum PDI yang sah. Akibatnya, PDI pimpinan Mega tidak bisa ikut Pemilu 1997. Setelah rezim Orde Baru tumbang, PDI Mega berubah nama menjadi PDI Perjuangan. Partai politik berlambang banteng gemuk dan bermulut putih itu berhasil memenangkan Pemilu 1999 dengan meraih lebih tiga puluh persen suara. Kemenangan PDIP itu menempatkan Mega pada posisi paling patut menjadi presiden dibanding kader partai lainnya. Tetapi ternyata pada SU-MPR 1999, Mega kalah.
Tetapi, posisi kedua tersebut rupanya sebuah
tahapan untuk kemudian pada waktunya memantapkan Mega pada posisi sebagai orang
nomor satu di negeri ini. Sebab kurang dari dua tahun, tepatnya tanggal 23 Juli
2001 anggota MPR secara aklamasi menempatkan Megawati duduk sebagai Presiden RI
ke-5 menggantikan KH Abdurrahman Wahid. Megawati menjadi presiden hingga 20
Oktober 2003. Setelah habis masa jabatannya, Megawati kembali mencalonkan diri
sebagai presiden dalam pemilihan presiden langsung tahun 2004. Namun, beliau
gagal untuk kembali menjadi presiden setelah kalah dari Susilo Bambang
Yudhoyono yang akhirnya menjadi Presiden RI ke-6.
Biodata :
Nama : Dr (HC) Hj. Megawati Soekarnoputri
Nama Lengkap : Dyah Permata Megawati Setyawati
Soekarnoputri
Lahir : Yogyakarta, 23 Januari 1947
Agama :Islam
Suami : Taufik Kiemas
Anak: 3 orang, (2 putra, 1 putri)
Karir :
:: Presiden Ke-5 RI (2001 – 2004)
:: Wakil Presiden RI (1999- 2001)
:: Anggota DPR/MPR RI (1999)
:: Anggota DPR/MPR RI (1987-1992)
Organisasi :
:: Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, April 2000-2005 dan 2005-2009
Alamat Rumah:
:: Jalan Teuku Umar 27-A, Jakarta Pusat
:: Jl. Kebagusan IV No 45 RT 010 RW 04, Kel. Kebagusan Kec. Pasar
Minggu, Jakarta
Selatan
Perjalanan karir
1. Anggota Gerakan Mahasiswa Nasional Indonsia (Bandung), (1965)
2. Anggota DPR-RI, (1993)
3. Anggota Fraksi PDI Komisi IV
4. Ketua DPC PDI Jakarta Pusat, Anggota FPDI DPR-RI, (1987-1997)
5. Ketua Umum PDI versi
6. Munas Kemang (1993-sekarang) PDI yang dipimpinnya berganti nama
menjadi PDI
Perjuangan pada 1999-sekarang
7. Wakil Presiden RI, (Oktober 1999-23 Juli 2001)
8. Presiden RI ke-5, (23 Juli 2001-2004)
Perjalanan pendidikan
1. SD Perguruan Cikini Jakarta, (1954-1959)
2. SLTP Perguruan Cikini Jakarta, (1960-1962)
3. SLTA Perguruan Cikini Jakarta, (1963-1965)
4. Fakultas Pertanian UNPAD Bandung (1965-1967), (tidak selesai)
5. Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (1970-1972), (tidak selesai).
Langganan:
Komentar (Atom)


